Jakarta – Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Australian Defence Force (ADF) berencana menggelar latihan gabungan yang berfokus pada operasi penanggulangan bencana. Inisiatif ini diumumkan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Muda Julius Widjojono, dalam konferensi pers yang berlangsung di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, pada hari Jumat, 9 Mei 2025. Latihan gabungan ini bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas dan koordinasi antara kedua angkatan bersenjata dalam menghadapi potensi bencana alam di kawasan regional.
Menurut Laksamana Muda Julius, latihan gabungan yang rencananya akan melibatkan sekitar 3.000 personel dari kedua negara ini akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dijadwalkan berlangsung di wilayah Indonesia, tepatnya di Pusat Pendidikan dan Latihan Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB) yang berlokasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada tanggal 1 hingga 7 Juni 2025. Tahap ini akan fokus pada simulasi penanganan bencana alam seperti gempa bumi dan banjir bandang, termasuk prosedur evakuasi korban dan pendistribusian bantuan kemanusiaan.
Selanjutnya, tahap kedua latihan gabungan akan dilaksanakan di Australia, di Northern Territory, pada tanggal 15 hingga 21 Juni 2025. Pada tahap ini, skenario latihan akan diperluas untuk mencakup penanganan bencana dengan skala yang lebih besar dan kompleks, termasuk simulasi evakuasi non-kombatan dalam situasi darurat. Keterlibatan berbagai unsur seperti satuan tempur, satuan logistik, dan tim medis dari kedua negara diharapkan dapat memperkuat kemampuan bersama dalam merespons krisis kemanusiaan.
“Latihan gabungan ini merupakan wujud komitmen TNI dan ADF untuk meningkatkan kerja sama di bidang keamanan regional, khususnya dalam menghadapi ancaman bencana alam yang sering terjadi di kawasan kita,” ujar Laksamana Muda Julius. Beliau menambahkan bahwa pemilihan fokus pada penanggulangan bencana didasarkan pada kesamaan geografis dan kerentanan terhadap bencana alam yang dimiliki oleh Indonesia dan Australia.
Selain meningkatkan kemampuan teknis dan taktis personel, latihan gabungan ini juga bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara TNI dan ADF. Melalui interaksi dan kerja sama dalam latihan, diharapkan terjalin pemahaman yang lebih baik mengenai prosedur operasi standar (SOP) masing-masing angkatan, sehingga koordinasi di lapangan dapat berjalan lebih efektif apabila terjadi situasi darurat yang sebenarnya.
Brigadir Jenderal David Peterson, Atase Pertahanan Australia untuk Indonesia, yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut, menyambut baik inisiatif latihan gabungan ini. Beliau menyampaikan bahwa ADF sangat antusias untuk bekerja sama dengan TNI dalam meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana. “Kami percaya bahwa melalui latihan bersama ini, kita dapat membangun tim yang lebih solid dan responsif dalam menghadapi tantangan kemanusiaan di masa depan,” katanya.
Persiapan untuk latihan gabungan ini telah dimulai sejak beberapa bulan terakhir, melibatkan tim perencanaan dari kedua angkatan bersenjata. Rapat koordinasi terakhir antara perwakilan TNI dan ADF dilaksanakan di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, pada hari Selasa, 6 Mei 2025, untuk memfinalisasi skenario latihan dan pembagian tugas masing-masing personel. Diharapkan, pelaksanaan latihan gabungan ini akan berjalan lancar dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan respons dalam menghadapi bencana alam.