Konsep pertahanan Indonesia diwujudkan melalui Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta), yang mengintegrasikan seluruh sumber daya nasional untuk menghadapi ancaman. Dalam sistem ini, TNI Angkatan Darat (AD) memiliki peran unik dan fundamental, yaitu melalui Pembinaan Wilayah Pertahanan (Binter). Pembinaan Wilayah Pertahanan adalah upaya teritorial yang bertujuan memberdayakan potensi wilayah dan masyarakat sipil sebagai Komponen Pendukung (Komduk) dan Komponen Cadangan (Komcad) pertahanan negara secara dini. Melalui Pembinaan Wilayah Pertahanan, prajurit TNI AD—khususnya yang bertugas di Komando Rayon Militer (Koramil) dan Komando Distrik Militer (Kodim)—menjadi penghubung utama antara kekuatan militer profesional dan rakyat.
Tujuan dan Cakupan Program Binter
Binter adalah cerminan dari filosofi manunggalnya TNI dengan Rakyat. Program ini memastikan bahwa jika terjadi ancaman militer, seluruh elemen masyarakat di suatu wilayah telah siap dan terorganisir untuk mendukung operasi pertahanan.
Tujuan utama Binter meliputi:
- Penguatan Komponen Cadangan (Komcad): Melatih warga negara terpilih untuk berfungsi sebagai kekuatan militer cadangan yang siap dimobilisasi. Program pelatihan Komcad ini, berdasarkan kebijakan terbaru, dilaksanakan selama tiga bulan di pusat-pusat pelatihan yang ditunjuk.
- Pemberdayaan Komponen Pendukung (Komduk): Meliputi infrastruktur sipil (jalan, jembatan, pelabuhan, bandara) dan sumber daya alam (pangan, energi) yang dapat dialihfungsikan atau digunakan untuk kepentingan militer saat darurat.
- Mewujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat: Membangun ikatan emosional dan kepercayaan antara prajurit dan masyarakat.
Implementasi di Tingkat Komando Kewilayahan
Aktivitas Binter dilaksanakan secara intensif oleh personel TNI AD yang berada di struktur Komando Kewilayahan. Babinsa (Bintara Pembina Desa) adalah ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di desa atau kelurahan. Setiap Babinsa rata-rata bertugas membina satu hingga dua desa.
Kegiatan Binter tidak selalu bersifat militeristik. Contohnya, pada Hari Jumat, 12 April 2025, Kodim di suatu wilayah perbatasan menyelenggarakan program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa). Dalam program TMMD ini, prajurit TNI AD bersama masyarakat lokal membangun jalan sepanjang 2 kilometer dan merehabilitasi rumah ibadah. Kegiatan non-militer ini adalah sarana strategis untuk memetakan potensi wilayah sekaligus menanamkan kesadaran bela negara dan disiplin. Data yang terkumpul dari program Binter, termasuk pemetaan demografi dan potensi sumber daya, kemudian digunakan untuk menyusun Rencana Operasi Pertahanan di tingkat daerah.
Integrasi Software dan Hardware
Hardware pertahanan adalah Alutsista, sementara software pertahanan adalah sumber daya manusia dan kesiapan mental rakyat. Melalui Binter, TNI AD memastikan bahwa software pertahanan ini kuat, terorganisir, dan memiliki semangat yang sama. Kekuatan pertahanan semesta yang terpusat pada Binter ini, merupakan model yang unik dan sangat relevan untuk menjaga keutuhan NKRI yang terdiri dari berbagai pulau dan keragaman budaya.