Pertarungan jarak dekat tanpa senjata maupun menggunakan senjata tajam merupakan keahlian dasar yang wajib dikuasai oleh setiap prajurit untuk menghadapi situasi darurat di lapangan. Bela diri taktis militer dirancang untuk melumpuhkan musuh secara cepat, mematikan, dan efisien tanpa membutuhkan banyak ruang gerak. Mengikuti ketangkasan bela diri secara rutin mengasah refleks pertahanan diri serta meningkatkan keberanian prajurit saat berhadapan langsung dengan musuh dalam duel jarak dekat. Ketepatan sasaran serangan menjadi kunci utama untuk merubuhkan lawan dalam hitungan detik.
Teknik bantingan, kuncian persendian, serta serangan pada titik-titik lemah tubuh manusia menjadi materi inti yang dilatihkan secara intensif kepada para prajurit. Penggunaan sangkur atau benda-benda di sekitar lapangan sebagai senjata darurat turut diajarkan guna mengoptimalkan daya serang saat amunisi senjata api telah habis. Pembelajaran ketangkasan bela diri ini membentuk mentalitas petarung yang pantang menyerah serta sanggup bertahan hidup dalam kondisi paling terdesak sekalipun. Kecepatan reaksi tangan dan kaki menentukan hasil akhir pertarungan.
Latihan pertarungan satu lawan satu serta menghadapi keroyokan musuh dilatih dengan menggunakan perlindungan tubuh yang aman namun tetap mendekati kondisi pertarungan sebenarnya. Para prajurit dilatih untuk tetap tenang dan dapat membaca gerakan serangan lawan di tengah situasi panik dan kelelahan fisik yang ekstrem. Menguasai ketangkasan bela diri militer memberikan rasa percaya diri yang tinggi bagi prajurit saat melancarkan aksi penyergapan atau ronda malam di area rawan. Fisik yang tangguh menopang keandalan teknik yang dipelajari.
Pembentukan otot yang kuat, kelenturan sendi, serta koordinasi mata dan tangan yang presisi diasah lewat latihan fisik harian di markas latihan. Pelatih bela diri menekankan pentingnya kedisiplinan dan penguasaan emosi agar keahlian mematikan ini hanya digunakan untuk kepentingan tugas negara dan pertahanan diri. Evaluasi sabuk kenaikan tingkat menjadi ajang pembuktian atas penguasaan jurus dan ketahanan fisik prajurit setelah menjalani program pembinaan yang panjang. Dedikasi tinggi melahirkan prajurit petarung yang disegani.
Keberhasilan menguasai Bela Diri Taktis menjadikan prajurit siap menghadapi segala bentuk ancaman fisik di medan operasi dengan keyakinan penuh pada kemampuan diri. Keahlian ini melengkapi kemampuan menembak dan taktik tempur prajurit sehingga mereka menjadi mesin perang yang utuh dan sangat fleksibel di lapangan. Pembinaan keahlian bertarung secara berkelanjutan memelihara kesiapsiagaan satuan dalam menjaga keselamatan diri dan kawan seperjuangan. Ketangkasan fisik merupakan pilar keunggulan prajurit TNI.