Baret merah Kopassus, Komando Pasukan Khusus Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, adalah simbol kebanggaan dan profesionalisme. Di balik kemampuan luar biasa para prajuritnya, tersimpan rahasia latihan pasukan yang sangat keras dan brutal, dirancang untuk mencetak personel yang tangguh secara fisik dan mental. Intensitas latihan pasukan ini menjadikan Kopassus sebagai salah satu pasukan elite paling disegani di dunia.
Latihan Kopassus dibagi dalam beberapa tahapan krusial. Dimulai dengan latihan dasar komando yang meliputi orientasi medan, navigasi darat, survival di hutan, serta teknik kamuflase dan pengintaian. Selama fase ini, calon prajurit diuji batas fisiknya dengan long march puluhan kilometer, tanpa henti, membawa beban berat, dan di bawah tekanan konstan. Mereka juga diajarkan untuk bertahan hidup di alam liar, termasuk mencari makan dan minum di kondisi paling ekstrem. Misalnya, pada periode latihan survival di hutan Kalimantan pada bulan Februari 2025 lalu, para calon komando harus mampu bertahan hidup selama 72 jam hanya dengan peralatan minimal, membuktikan ketahanan adaptasi mereka.
Tahap selanjutnya adalah latihan tempur khusus, yang meliputi pertempuran jarak dekat (CQB), rappel, menembak akurasi tinggi, serta teknik anti-teror. Para prajurit dibekali dengan kemampuan menggunakan berbagai jenis senjata api dan non-senjata, serta taktik infiltrasi dan eksfiltrasi. Pelatihan menembak misalnya, dilakukan setiap hari Rabu dan Jumat di lapangan tembak khusus, yang diawasi langsung oleh instruktur berpengalaman dari Satuan 81 Kopassus. Tingkat kesulitan latihan pasukan ini ditingkatkan secara bertahap, memastikan setiap prajurit menguasai keahlian khusus yang diperlukan dalam misi berat.
Latihan di air dan udara juga menjadi bagian tak terpisahkan. Prajurit Kopassus dilatih untuk terjun payung statis maupun free fall, serta operasi bawah air termasuk penyelaman tempur. Latihan ini sering dilakukan di perairan terbuka dan di bawah pengawasan ketat tim penyelamat dari TNI Angkatan Laut. Keseluruhan proses latihan pasukan ini tidak hanya membentuk fisik yang prima, tetapi juga mental baja, disiplin tinggi, dan kemampuan mengambil keputusan cepat di bawah tekanan.
Pada akhirnya, setiap prajurit Kopassus yang berhasil menyelesaikan semua tahapan latihan ini adalah individu terpilih yang siap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari operasi militer rahasia hingga misi kemanusiaan. Komitmen mereka terhadap disiplin dan kesempurnaan adalah alasan mengapa Baret Merah menjadi lambang kebanggaan bangsa. Pada tanggal 15 Mei 2025, Komandan Jenderal Kopassus bahkan menyampaikan apresiasi kepada seluruh instruktur atas dedikasi mereka dalam mencetak prajurit elite.