Kekuatan darat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) merupakan tulang punggung pertahanan teritorial. Selama bertahun-tahun, banyak unit tempur darat TNI AD masih mengandalkan Alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) warisan lama, beberapa di antaranya sudah berusia lebih dari 40 tahun. Dalam upaya modernisasi, TNI AD kini menerapkan Strategi Efisiensi dan peremajaan besar-besaran, khususnya pada unit tank dan artileri, untuk memastikan kekuatan pemukul darat tetap relevan dan mampu menghadapi ancaman modern. Strategi Efisiensi ini tidak hanya berfokus pada pembelian Alutsista baru, tetapi juga pada peningkatan kemampuan tempur unit yang sudah ada melalui retrofit dan standarisasi logistik. Tujuannya adalah membangun deterrent (faktor pencegah) yang kredibel dengan anggaran yang terukur.
Peremajaan di sektor tank merupakan salah satu program terbesar. Tank ringan dan medium seperti AMX-13 yang telah berdinas sejak tahun 1960-an secara bertahap digantikan. Akuisisi paling signifikan adalah Tank Tempur Utama (Main Battle Tank / MBT) Leopard 2A4 dari Jerman. Indonesia mengakuisisi total 103 unit Leopard, yang memberikan daya tembak dan perlindungan yang jauh superior. Namun, Strategi Efisiensi tidak berhenti pada pembelian. Beberapa unit Leopard ini menjalani upgrade lokal menjadi varian Leopard 2RI (Republic of Indonesia) di mana lapis baja dan sistem pengendalian tembakan ditingkatkan, memastikan tank tersebut cocok dengan kondisi iklim dan geografis Indonesia, sekaligus melibatkan industri pertahanan lokal seperti PT Pindad dalam proses peremajaan.
Di sektor artileri, TNI AD menghadapi tantangan mobilitas. Meriam towed (ditarik) memerlukan waktu deployment yang lama. Oleh karena itu, modernisasi diarahkan ke sistem Self-Propelled Howitzer (SPH) atau meriam swagerak. Akuisisi SPH CAESAR (Camion Équipé d’un Système d’Artillerie) dari Perancis adalah langkah monumental. Meriam SPH ini memiliki jarak tembak efektif hingga 40 kilometer dan dapat berpindah posisi dengan sangat cepat (shoot-and-scoot), meminimalkan risiko terkena tembakan balasan. Kepala Staf TNI AD (Kasad) dalam pidato di Akademi Militer Magelang pada Jumat, 8 Agustus 2025, menyatakan bahwa artileri modern telah mengubah komposisi ancaman pertahanan di perbatasan darat.
Aspek efisiensi yang paling sering diabaikan adalah standarisasi dan maintenance. Mengoperasikan terlalu banyak jenis Alutsista dari berbagai negara (variasi logistik) dapat meningkatkan biaya perawatan. Oleh karena itu, TNI AD berusaha membatasi varian suku cadang dan sistem pelatihan. TNI AD Resimen Artileri Medan (Armed) kini terpusat pada platform SPH yang lebih sedikit dan modern, memungkinkan konsentrasi sumber daya pelatihan dan perbaikan di Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussenarmed). Peremajaan ini bukan hanya tentang hardware baru, tetapi tentang menciptakan kekuatan darat yang tangguh, mudah dirawat, dan selalu siap tempur.