Bagi seorang calon perwira, kemampuan bertempur di medan yang paling sulit adalah syarat mutlak yang harus dikuasai. Indonesia, dengan karakteristik wilayah yang didominasi oleh hutan hujan tropis yang lebat, menuntut prajuritnya memiliki kemampuan gerilya yang mumpuni. Dalam fase pendidikan tertentu, para taruna harus menghadapi kenyataan pahit dalam sebuah kurikulum yang sering disebut sebagai latihan hutan terparah! di wilayah timur Jawa. Di sini, musuh utama mereka bukanlah peluru lawan, melainkan kelelahan yang ekstrem, rasa lapar yang menusuk, serta kondisi alam yang tidak memberikan toleransi sedikit pun bagi mereka yang lemah dan tidak disiplin.
Untuk memahami bagaimana seorang manusia bisa melampaui batas normalnya, kita perlu mengingintip kerasnya proses yang terjadi di dalam rimbunnya hutan tersebut. Selama berminggu-minggu, para taruna dilepas dengan perlengkapan minimal dan harus mampu bertahan hidup (survival) sambil tetap menjalankan misi taktis yang kompleks. Mereka dilatih untuk mengonsumsi apa pun yang disediakan oleh alam, mulai dari tumbuhan hutan hingga hewan liar, guna menjaga energi tetap ada. Tidur di bawah rintik hujan tanpa alas yang layak dan harus tetap waspada terhadap kemungkinan serangan simulasi dari pelatih menjadi makanan sehari-hari yang membentuk mental baja para calon perwira ini.
Tujuan utama dari fase ini adalah untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan komando yang sangat prestisius. Pendidikan ini bertujuan untuk melahirkan perwira-perwira yang memiliki kualifikasi khusus dalam operasi-operasi khusus yang membutuhkan kerahasiaan dan kecepatan tinggi. Di dalam hutan-hutan wilayah Jawa Timur, mereka ditempa untuk memiliki insting pemburu sekaligus kemampuan navigasi darat yang akurat tanpa bergantung sepenuhnya pada teknologi GPS. Ketahanan mental mereka diuji ketika instruksi yang diberikan sering kali berubah-ubah untuk melihat sejauh mana mereka tetap stabil dan mampu memimpin anak buah dalam situasi yang kacau balau dan penuh ketidakpastian.
Pusat-pusat pelatihan di bawah koordinasi Akmil Jatim dipilih karena memiliki karakteristik medan yang sangat lengkap, mulai dari hutan rawa yang berlumpur hingga lereng gunung yang terjal. Setiap jengkal tanah latihan memiliki cerita tentang tetesan keringat dan perjuangan para senior mereka yang kini telah menjadi pemimpin-pemimpin hebat di militer.