Kabar Duka Hamas: Panglima Militer Mohammed Deif Meninggal

Kabar duka menyelimuti gerakan Hamas dengan dikonfirmasinya kematian panglima militer mereka, Mohammed Deif. Sosok misterius yang dijuluki “Hantu” atau “Kucing Sembilan Nyawa” ini menjadi target utama Israel selama puluhan tahun. Kematiannya menandai babak baru dalam konflik berkepanjangan di Jalur Gaza.

Deif, kepala Brigade Izz ad-Din al-Qassam, dikonfirmasi meninggal dunia pada 13 Juli 2024 akibat serangan udara Israel di Khan Younis. Meskipun Israel telah mengklaim kematiannya sejak Agustus 2024, Hamas baru secara resmi mengumumkannya pada akhir Januari 2025, setelah berbulan-bulan melakukan verifikasi internal.

Sosok Mohammed Deif dikenal sangat tertutup dan jarang muncul di publik. Ia adalah arsitek utama di balik strategi militer Hamas, termasuk pembangunan jaringan terowongan yang luas dan pengembangan roket Qassam. Perannya sangat sentral dalam operasi militer Hamas.

Deif telah menjadi target utama Israel sejak pertengahan 1990-an. Ia berhasil selamat dari setidaknya tujuh upaya pembunuhan yang berbeda. Sebagian besar upaya tersebut menyebabkan ia mengalami luka parah dan kehilangan beberapa bagian tubuhnya, meningkatkan statusnya sebagai figur legendaris.

Kematiannya terjadi di tengah konflik yang memanas antara Hamas dan Israel. Deif diyakini sebagai salah satu dalang utama di balik serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kehilangan seorang pemimpin strategis seperti Deif tentu menjadi pukulan telak bagi sayap militer Hamas.

Meskipun demikian, Hamas menegaskan bahwa kematian Deif tidak akan melemahkan perlawanan mereka. Para pemimpin Hamas lainnya telah berjanji untuk melanjutkan perjuangan dan membalas dendam. Semangat perlawanan mereka diklaim akan semakin membara.

Di sisi Israel, kematian Deif dianggap sebagai pencapaian signifikan dalam operasi militer mereka. Ini adalah keberhasilan dalam melumpuhkan salah satu tokoh kunci di balik serangan yang menewaskan banyak warganya. Israel menganggap ini sebagai kemenangan intelijen dan militer.

Dampak jangka panjang dari kematian Deif masih akan terlihat. Apakah ini akan menyebabkan pergeseran kepemimpinan atau perubahan strategi Hamas. Atau justru memicu gelombang perlawanan yang lebih besar, membuat situasi semakin tidak menentu.

Dunia internasional mengamati dengan cermat perkembangan ini. Kematian Deif dapat mempengaruhi arah negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Ini menambah kompleksitas pada upaya mencari solusi damai di Gaza, di tengah krisis kemanusiaan yang mendalam.