Konsep pertahanan negara Indonesia, Sishankamrata, menegaskan bahwa kedaulatan bukan hanya dijaga oleh alat utama sistem persenjataan (alutsista) militer, melainkan oleh partisipasi menyeluruh seluruh rakyat. Doktrin Pertahanan Semesta Indonesia ini kini menghadapi transformasi besar seiring dengan masuknya Era Digital, di mana ancaman tidak lagi terbatas pada invasi fisik, tetapi meluas ke dimensi siber dan informasi. Memahami roadmap Sishankamrata di abad ke-21 memerlukan kesadaran bahwa pertahanan siber dan perang informasi kini menjadi garis depan baru. Pertahanan Semesta Indonesia menuntut agar Komponen Utama (TNI) beradaptasi dengan teknologi perang terbaru. Berdasarkan Strategic Defense Review yang dikeluarkan oleh Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada 30 November 2025, ancaman siber telah teridentifikasi sebagai risiko tingkat tertinggi yang berpotensi melumpuhkan infrastruktur vital nasional, menjadikannya fokus utama dalam roadmap pertahanan.
Tantangan utama dalam menerapkan Pertahanan Semesta Indonesia di Era Digital adalah Modernisasi Kapabilitas Siber dan Informasi. TNI tidak hanya perlu mengamankan jaringannya sendiri, tetapi juga harus mampu meluncurkan operasi siber ofensif dan defensif. Ini mencakup investasi besar dalam teknologi Big Data, Kecerdasan Buatan (AI), dan keamanan kriptografi. Alokasi anggaran khusus untuk pengembangan SDM siber dan peralatan siber di Kementerian Pertahanan RI meningkat 15% pada tahun fiskal 2025/2026. Roadmap pertahanan saat ini menekankan bahwa setiap prajurit, dari Komponen Utama hingga Komponen Cadangan, harus memiliki kesadaran siber dasar.
Kedua, Sinergi dan Integrasi Komponen Pertahanan Non-Fisik. Sishankamrata secara historis berfokus pada mobilisasi fisik. Namun, di era digital, Komponen Pendukung mencakup ahli teknologi, developer perangkat lunak, dan pakar komunikasi yang berada di sektor sipil. Tugas utama roadmap adalah menciptakan sistem yang memungkinkan mobilisasi cepat dari keahlian sipil ini untuk mendukung pertahanan siber dan informasi. Sebagai contoh, pelatihan bersama antara Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dengan Kodam IV/Diponegoro pada 14 Desember 2025, pukul 10.00 WIB, berfokus pada pertahanan infrastruktur telekomunikasi vital regional.
Ketiga, Transformasi Budaya dan Pendidikan. Untuk menerapkan Strategi Pertahanan Semesta yang efektif, prajurit harus bergerak melampaui paradigma perang konvensional. Pendidikan militer di semua tingkatan, mulai dari Akademi Militer hingga sekolah staf komando, kini menyertakan modul wajib tentang Cyber Warfare dan Information Warfare. Tujuannya adalah memastikan bahwa komandan lapangan memiliki pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana teknologi dapat digunakan, baik sebagai senjata maupun sebagai alat pertahanan.