Latihan militer di medan pegunungan tinggi sering kali menghadapkan para taruna pada tantangan alam yang ekstrem, salah satunya adalah suhu udara yang sangat rendah. Bagi Akmil Jatim, kemampuan untuk mengelola risiko hipotermia bukan sekadar pengetahuan teknis, melainkan keterampilan bertahan hidup yang wajib dikuasai. Hipotermia merupakan kondisi medis serius di mana suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius, yang jika tidak segera ditangani dengan strategi yang tepat, dapat berakibat fatal bagi keselamatan para prajurit.
Strategi utama pencegahan hipotermia dimulai dari persiapan perlengkapan yang mumpuni sebelum memasuki medan operasi. Penggunaan sistem pakaian berlapis atau layering system adalah kunci. Lapisan dalam berfungsi untuk menyerap kelembapan dari keringat, lapisan tengah berfungsi sebagai isolator panas, dan lapisan luar berfungsi sebagai pelindung dari angin dan air. Banyak taruna yang sering kali melakukan kesalahan dengan memakai terlalu banyak pakaian yang tidak memiliki ventilasi, sehingga keringat terperangkap di dalam dan justru mempercepat proses pendinginan tubuh saat mereka berhenti bergerak.
Selain perlengkapan, latihan yang dilakukan di medan dingin memerlukan manajemen energi yang sangat efisien. Tubuh membutuhkan bahan bakar yang cukup agar sistem termoregulasi dapat bekerja secara optimal untuk menghasilkan panas internal. Asupan nutrisi yang kaya akan karbohidrat dan lemak sehat sebelum dan selama kegiatan di gunung menjadi krusial. Cairan tubuh juga harus tetap terjaga karena dehidrasi akan mempercepat terjadinya kelelahan dan menurunkan kemampuan tubuh untuk mempertahankan suhu inti. Taruna diajarkan untuk tidak mengandalkan rasa haus saja, melainkan disiplin minum secara berkala meskipun udara terasa dingin.
Penting juga untuk mengenali tanda-tanda awal hipotermia, seperti menggigil yang hebat, bicara yang mulai tidak jelas, hingga penurunan kesadaran. Dalam gunung yang terjal, kemampuan untuk mengidentifikasi gejala ini pada rekan setim adalah bentuk tanggung jawab sosial yang sangat tinggi. Jika tanda-tanda hipotermia mulai muncul pada salah satu anggota tim, langkah evakuasi ke tempat yang lebih hangat, penggantian pakaian basah dengan yang kering, serta pemberian minuman hangat harus segera dilakukan dengan prosedur yang tenang dan terorganisir.